ADSENSE

Kumpulan Puisi Gus Mus : Bagian 1

Post a Comment

I B U

Ibu, Kaulah gua teduh

Tempatku bertapa bersamamu sekian lama

Kaulah kawah,

Darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi, yang tergelar lembut bagiku melepas lelah dan nestapa

Gunung yang menjaga mimpiku siang dan malam

Mata air yang tak brenti mengalir

Membasahi dahagaku

Telaga tempatku bermain

Berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit

Yang menjaga lurus horisonku

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan

Yang mengawal perjalananku

Mencari jejak surge di telapak kakimu

(Tuhan, aku bersaksi

Ibuku telah melaksanakan amanatMu

Menyampaikan kasih sayangMu

Maka kasihilah ibuku

Seperti Engkau mengasihi kekasih-kekasihmu

Amin)

Dibacakan pada saat pembukaan Rakernas Muslimat 2014 di Asrama Haji Pondok Gede

28 Mei 2014

 

IBU KU

Ibu,

Aku bersaksi engkaulah perempuan rupawan

Yang berwajah tersenyum menawan

Pantulan kebersihan

Hatimu yang hasan

Ibu,

Aku bersaksi

Engkaulah guru pertamaku yang mengajari

Kasih sayang sejati

Yang mengajariku mulai dari

Membuat titik lalu menjadi

Garis-garis dan aksara yang berarti

Ibu,

Aku bersaksi

Engkaulah seniman yang membimbingku

Siang malam

Kepada keindahan semesta alam

Menuntunku menirukan suara-suara yang bergoyang

Menyalin pemandangan dan panorama

Dan menuliskan segala pesona

Ibu,

Aku bersaksi

Engkaulah patriot panutanku

Yang tak henti mengingatkanku

Tentang cinta tanah air

Tempat aku lahir

Tempat aku mewujud

Dan bersujud

Ibu,

Aku bersaksi

Engkaulah mursyidku yang mengenalkanku

Kepada khaliqku yang syukur

Yang mendidikku

Bersabar dan bersyukur

Berzikir dan tafakur

Yang melatihku

Antara khauf-rajaku yang membaur

Menyerap lasih sayang Ilahi yang luhur

Rembang, Desember 2013

 

KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA

Kau ini bagaimana

Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana

Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

 

Kau ini bagaimana

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau

Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana

Atau aku harus bagaimana

1987

 

DALAM KERETA

Bukanya aneh bukannya dalam kereta aku kembali teringat

Apakah karena gemuruh yang melintas disini

Aku kembali teringat perjalanan kita yang singkat bukan karena jarak yang dekat

Tapi jarak terlipat oleh keasikan kita yang nikmat

Tidak seperti biasa, kita begitu menjadi kanak-kanak

Bahkan kadang-kadang norak

Tak terganggu stasiun berteriak-teriak dan suara kereta yang bergerak-gerak

Bukannya aneh kita menikmati kesendirian dalam keramaian

Stasiun demi stasiun terlewati tanpa kita sadari

Sampai kita kembali menjadi diri kita lagi

Kau dimana sekarang sayang

Lalu apa yang ada disini (dada) yang terus bergemuruh ini

 

KALAU KAU SIBUK KAPAN KAU SEMPAT

Kalau kau sibuk berteori saja

Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?

Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja

Kapan kau sempat memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja

Kapan kau sempat menikmati hidup?

Kalau kau sibuk menikmati hidup saja

Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja

Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?

Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja

Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja

Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?

Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja

Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja

Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?

Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja

Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja

Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?

Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja

Kapan kau menyadari celamu sendri?

Kalau kau sibuk bertikai saja

Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?

Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja

Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja

Kapan kau sempat merenungi arti cinta?

Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja

Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja

Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?

Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja

Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja

Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?

Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja

Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja

Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?

Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja

Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja

Kapan kau sempat berpuisi?

Kalau kau sibuk berpuisi saja

Kapan kau akan memuisi?

Kalau kau sibuk dengan kulit saja

Kapan kau sempat menyentuh isinya?

Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja

Kapan kau sampai intinya?

Kalau kau sibuk dengan intinya saja

Kapan kau memakrifati nya-nya?

Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja

Kapan kau bersatu denganNya?)

Kalau kau sibuk bertanya saja

Kapan kau mendengar jawaban!

AKU MERINDUKAN MU, O, MUHAMADKU

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah

Menatap mataku yang tak berdaya

Sementara tangan-tangan perkasa

Terus mempermainkan kelemahan

Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan

Mencari-cari tangan

Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan

Terus kudengar suara serutan

Derita mengiris berkepanjangan

Dan kepongahan tingkah-meningkah

Telingaku pun kutelengkan

Berharap sesekali mendengar

Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu, o. Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan

Menjulur-julur kesana kemari

Mencari mangsa memakan korban

Melilit bumi meretas harapan

Aku pun dengan sisa-sisa suaraku

Mencoba memanggil-manggilmu

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

mana sesama saudara

Saling cakar berebut benar

Sambil terus berbuat kesalahan

Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan

Masing-masing mereka yang berkepentingan

Aku pun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab

Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -

bagaimana melawan gelombang kebodohan

Dan kecongkaan yang telah tergayakan

Bagaimana memerangi

Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu

Untuk ali jabbar dan usman awam

 

DI BASRAH

Inilah basrah...

tanah batu putih..

tak pernah berhenti memerah..

tak pernah lelah dijarah sejarah..

Inilah basrah...

pejuang badar bernama utbah

membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah

Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama

Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..

Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita

Basrah yg marah.. basrah yg merah..

basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..

Kota yg terus membatasi penduduknya

dengan menambah jumlah syuhada..

Inilah basrah..

disini ali dan aisyah.. menantu dan istri nabi

mengumpulkan dendam amarah..

ghirah terhadap keyakinan kebenaran ..

setelah mengantarkan az zubair dan al haq,

hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yg dijanjikan

Inilah basrah..

Di sini abu musa dan abul hasan

mematrikan nama al as’ari pada lempeng sejarah

Inilah basrah..

di sini berbaur seribu satu aliran

Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah,

masing-masing bisa menjadi bid’ah

Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah ..

Inilah basrah.. mimbar khalwat al hasan al bashari dan rabi’ah ..

Inilah basrah.. tempat bercanda abu nuas dan walibah ..

Inilah basrah.. tempat al musayyab dan syair2nya

menghidupkan mirwat yang wah..

Inikah basrah...

tangan takdir penuh misteri

menuntunku.. tamu tak diundang ini kemari

Aku menahan nafas...

Inikah basrah...

Inilah basrah.. setelah perang irak iran

Korma-korma yg masih pucat melambai ramah..

Para pemuda, gadis, dan bocah

menyanyi dan menari tahnyiah

untuk penyair mirbat yg berpesta merayakan

entah kemenangan apa

Di sini jumat siang 25 jumadil ula

Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan

Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling..

Ikan-ikan shatul arab yg dipanggang kering

Nasi samin dan roti segede-gede piring..

anggur dan korma kemurahan basrah..

Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka..

mengeroyok meja makan yg panjang..

menelan puisi dan saji ..

sambil kuperhatikan wajah-wajah para penyair,.

Kalau-kalau…, ah…

sampai walibah dan abu nawas pun tak tampak ada.

Inilah basrah…

bersama para penyair yg lapar.. kutelan semuanya..

Bersama-sama menghabiskan apa yang ada..

sampai mentari ditelan bumi..

Dan aku pun tertelan habis-habisan..

Basrah mulai gelap…

barangkali adzan maghrib sudah dikumandangkan..

tapi tampaknya tak satupun yg mendengarnya..

Kami kekenyangan semua..

Dan aku, sambil bersendawa,

merogoh saku mencari-cari rokokku..

terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah..

puisi-puisi sufistik untuk al bashari dan rabi’ah..

Tiba-tiba.. aku ingin muntah..

Kulihat kedua zahid basrah itu.. di sudut sana sedang berbuka

hanya dengan air mata..

Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana..

Tuhan.., berilah aku setetes saja air mata mereka..

untuk mencairkan batu di dadaku..

Basrah.. tolong, jangan rekam kehadiranku..

Basrah, 1410 H

Related Posts

Post a Comment

mgid